prospek saham bumi 2023
INVESTASI, SAHAM

Prospek Saham BUMI 2023, Apakah Layak Dilirik oleh Investor?

Meroketnya harga batu bara pada 2022 lalu adalah faktor yang mendorong naiknya pendapatan saham-saham batu bara, tak terkecuali saham BUMI yang mencatatkan rekor pendapatan tertinggi sepanjang tahun sejak perusahaan tambang ini berdiri. 

Namun sayangnya tingginya harga batu bara di tahun 2022 tampaknya sulit terulang di tahun 2023. Walaupun begitu, batu bara diprediksi tetap tokcer dan menjadi primadona komoditas tambang di tahun 2023. Lantas, bagaimana dengan prospek saham BUMI  2023? Berikut adalah ulasan lengkap saham BUMI di tengah mulai merosotnya harga batu bara di tahun 2023.

Apa Itu BUMI?

BUMI adalah emiten dari salah satu perusahaan pertambangan terbesar di Indonesia yang bernama PT Bumi Resources Tbk yang sudah menjadi perusahaan publik sejak 30 Juli 1990.

Menurut situs resmi perusahaan, PT Bumi Resources Tbk sudah berdiri sejak tahun 1973 silam. Perusahaan ini memiliki ruang lingkup bisnis yang meliputi eksplorasi dan eksploitasi minyak, gas, dan batu bara.

Batu bara adalah komoditas utama perdagangan dari perusahaan pertambangan ini. Tak heran, bila pada tahun 2022 lalu ketika harga batu bara meroket tajam. Perusahaan ini berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 213% atau mencapai Rp7,93 triliun pada 2022.

Jika dibandingkan pada tahun 2021, volume produksi batu bara yang dihasilkan oleh BUMI pada 2022 mengalami penurunan dari 78,8 MT menjadi 71,9 MT. Penyebab utama menurunnya hasil produksi batu bara pada tahun 2022 ini disebabkan oleh La Nina yang menyebabkan terjadinya hujan terus-menerus sepanjang tahun.

Walaupun begitu, harga batu bara sepanjang tahun 2022 mengalami kenaikan hingga 80% dibanding tahun 2021 dari $67,4 per ton menjadi $121 per ton.

Faktor kenaikan harga batu bara inilah yang mendongkrak penjualan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) hingga mencatatkan rekor pendapatan tertinggi perusahaan sepanjang tahun.

Prospek Saham BUMI 2023

Kapan BUMI IPO?

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pertama kali melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 30 Juli 1990. Saat IPO, harga saham BUMI senilai Rp4.500/saham dan jumlah saham yang ditawarkan sebanyak 10 juta lembar saham.

Selama IPO, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berhasil meraup dana segar sebesar Rp45 miliar dari penjualan saham perdana ke publik.

Saat ini, komposisi pemegang saham BUMI dikuasai oleh Match Energy (Hongkong) Limited (45,78%), HSBC-FUND SVS A/C Chengdong Investment Corp-Self (10,68%),Treasure Global Investments Limited (8,08%),  NBS Clients (3,97%), UBS Switzerland AG-CLIENTS ASSETS (2,52%), dan 28,97% sisanya dimiliki pemegang saham lainnya.

Sementara itu, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga diketahui memiliki sejumlah anak perusahaan antara lain:

·  Kaltim Prima Coal.

·  Arutmin Indonesia.

·  Gallo Oil.

·  Pendopo Energi Batubara.

·  Bumi Resources Minerals. 

Anak perusahaan milik PT Bumi Resources Tbk (BUMI) ini adalah perusahaan-perusahaan yang bergerak pada  bidang batu bara, minyak dan gas, dan minerals/non-batu bara.

Mengenal Komoditas Batu Bara yang Menjadi Penyumbang Terbesar Pendapatan Saham BUMI

Oleh karenanya, menarik untuk diulas bukan bagaimana prospek saham BUMI di tahun 2023. Namun sebelum kita masuk ke pembahasan lebih dalam mengenai prospek saham BUMI di 2023.

The Investing ID ingin mengajak Anda terlebih dahulu mengenal lebih dekat lagi dengan komoditas batu bara yang menjadi penyumbang terbesar pendapatan saham-saham batu bara di Indonesia termasuk BUMI.

1.  Indonesia Masuk 5 Besar Negara Penghasil Batu Bara Terbesar di dunia

Secara letak geografis, negara Indonesia berada di wilayah cincin api atau lebih dikenal sebagai ring of fire. Letak geografis ini membuat Indonesia memiliki banyak gunung-gunung api aktif yang menyebabkan banyaknya terjadi gempa bumi di Indonesia.

Namun keuntungan dari letak geografis Indonesia yang berada di ring of fire adalah negara Indonesia memiliki tanah yang subur dan sumber daya alam yang melimpah. Salah satu sumber daya alam yang melimpah di Indonesia adalah batu bara.

Komoditas tambang seperti batu bara banyak ditemukan di Pulau Sumatera dan Kalimantan yang memang dikenal oleh publik dunia sebagai pulau penghasil batu bara terbesar.

Pada tahun 2022 Indonesia menduduki peringkat ketiga sebagai negara penghasil batu bara terbesar di dunia. Indonesia hanya kalah dari Tiongkok dan India. Tercatat sepanjang 2022, Indonesia menghasilkan batu bara termal sebanyak 615 juta ton dan 7 juta ton batu bara metalurgi.

2.  Kualitas Batu Bara

Kualitas batu bara yang dihasilkan di Indonesia tidak kalah bersaing dibanding negara-negara penghasil batu bara lainnya di luar sana. Kita bisa mengambil contoh kualitas batu bara yang berasal dari sejumlah tambang batu bara yang dikelola oleh anak perusahaan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) di Indonesia seperti Kaltim Prima Coal.

Kaltim Prima Coal menghasilkan 3 merek brand yakni Prima Coal, Pinang Coal, dan Melawan Coal. Prima Coal adalah jenis batu bara dengan kualitas yang sangat baik karena memiliki kandungan kalori yang tinggi mencapai 6.896 kcal/kg dan berkategori kualitas I.

Sementara itu, Pinang Coal adalah jenis batu bara yang mirip dengan Prima Coal namun dengan kadar air yang lebih tinggi dan energi yang lebih rendah.

Sedangkan untuk jenis batu bara yang ketiga yang diproduksi oleh Kaltim Prima Coal adalah Melawan Coal. Melawan Coal adalah batubara sub-bituminus terbersih dengan kadar debu terendah dan mengandung sulfur.

Ketiga spesifikasi batu bara yang diproduksi oleh Kaltim Prima Coal ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar baik itu pasar domestik maupun ekspor.

Prospek Saham BUMI 2023

Di tengah merosotnya harga batu bara pada kuartal 1 2023, tentu hal ini membuat investor sedikit khawatir perihal prospek saham-saham batu bara pada 2023 termasuk saham BUMI yang sedang kita bahas di artikel ini.

Menurut Kementerian ESDM, proyeksi sektor pertambangan di tahun 2023 tidak akan berbeda jauh dengan capaian tahun 2022 lalu. Tentu sulit rasanya jika kita berharap harga batu bara akan tetap tinggi seperti di tahun 2022, hal ini dikarenakan batu bara adalah sebuah komoditas yang cepat atau lambat perlahan-lahan akan mengalami penurunan harga.

Tren penurunan harga batu bara ini sudah terlihat pada kuartal 1 2023, dimana harga batu bara Newcastle yang menjadi patokan global pada 1 Maret 2023 berada di level $187,23 per ton. Padahal, pada 1 Januari 2023 harga batu bara Newcastle masih berada di level $317,99 per ton.

Berikut adalah beberapa sentimen yang bisa mempengaruhi prospek saham BUMI 2023 

1.  Harga Batu Bara

Mahal atau tidaknya harga suatu komoditas tentu dipengaruhi oleh hukum permintaan dan penawaran. Walaupun harga batu bara saat ini sedang dalam tren penurunan, namun permintaan batu bara dalam negeri dan luar negeri tetap banyak yang tentunya bisa mendongkrak harga batu bara.

Dari dalam negeri, Kementerian ESDM memproyeksikan permintaan batu bara untuk sektor kelistrikan sebesar 161,15 juta ton sepanjang tahun 2023. Selain itu, permintaan batu bara untuk sektor industri semen dan pupuk juga diprediksi akan mengalami kenaikan sepanjang tahun 2023.

Untuk pasar ekspor, Tiongkok masih menjadi salah satu tujuan ekspor batu bara terbesar bagi Indonesia. Selain sebagai negara penghasil batu bara, Tiongkok juga membutuhkan impor batu bara dari negara lainnya seperti Indonesia untuk memenuhi permintaan batu bara di Tiongkok.

Tingginya permintaan batu bara di Tiongkok ini juga didukung dengan adanya kebijakan pemerintah Tiongkok yang menetapkan pajak istimewa tarif nol untuk batu bara impor hingga akhir tahun 2023.

Kebijakan impor batu bara di Tiongkok ini tentu adalah sentimen positif bagi saham BUMI, dimana Tiongkok adalah salah satu pasar ekspor terbesar bagi BUMI selain Jepang dan India.

2.  Cuaca

Suhu dingin atau panas di negara-negara tujuan ekspor juga akan mempengaruhi tingkat permintaan sepanjang tahun 2023. Jika kita melihat pola permintaan batu bara selama ini, permintaan batu bara akan mengalami peningkatan ketika negara-negara tujuan ekspor sedang memasuki musim panas atau musim dingin di negaranya. Mengapa?

Hal ini dikarenakan batu bara banyak digunakan di negara-negara dunia sebagai energi penghasil listrik. Sehingga, ketika memasuki musim dingin masyarakat akan lebih sering menggunakan listrik untuk menghangatkan ruangan. Sebaliknya pula ketika memasuki musim panas dimana akan ada banyak masyarakat yang menggunakan pendingin ruangan yang membuat penggunaan listrik semakin meningkat dan membuat permintaan batu bara juga ikut naik.

Namun sayangnya musim dingin di Eropa dan Amerika Serikat tidak sedingin biasanya atau jauh lebih hangat. Sehingga, penggunaan batu bara menjadi berkurang untuk pembangkit listrik dan bisa digantikan dengan gas alam yang punya harga yang relatif lebih murah.

 3.  Volume Produksi

Untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor sepanjang tahun 2023, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sudah menetapkan target produksi batu bara yang mencapai 81,35 juta ton.

Target produksi batu bara ini juga sudah mengantongi persetujuan dari Kementerian ESDM. Nantinya target produksi batu bara ini diproyeksikan akan dipenuhi oleh Kaltim Prima Coal sebanyak 70% dan Arutmin Indonesia sebanyak 30%.

Walaupun begitu, target produksi batu bara ini bisa saja meleset karena adanya faktor cuaca. Sejauh ini, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sudah memproduksi batu bara sebanyak 16 juta ton pada kuartal 1 2023.

Volume produksi batu bara ini bisa mempengaruhi kinerja perusahaan BUMI untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor yang diprediksi tetap tinggi sepanjang tahun 2023.

Tujuan ekspor batu bara BUMI meliputi Jepang, India, Tiongkok, Filipina, Malaysia, Thailand, Taiwan, dan Korea Selatan.

4.  Suku Bunga

Naik atau turunnya suku bunga acuan di Amerika Serikat bisa mempengaruhi berbagai sektor bisnis. Tak terkecuali, bisnis pertambangan seperti batu bara.

Menurut Gubernur The Fed, Jerome Powell, The Fed tetap menaikkan suku bunga acuan hingga inflasi di Amerika Serikat bisa diturunkan menjadi 2%. Sepanjang tahun 2023, suku bunga The Fed diperkirakan akan berada di level 5,1%. 

Bank sentral Amerika Serikat ini diprediksi baru akan menurunkan suku bunga acuan pada 2024 dengan rata-rata sebesar 4,3% sepanjang tahun dan menjadi 3,1% pada 2025.

Namun hal ini barulah perkiraan saja dan masih bisa berubah sesuai dengan kondisi ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat. Jika kita melihat inflasi di Amerika Serikat pada Februari 2023 masih berada di level 6%, kita bisa berasumsi bahwa The Fed akan terus menaikkan suku bunga hingga inflasi di Amerika Serikat turun menjadi 2% sesuai dengan pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell.

Kenaikan suku bunga acuan The Fed membuat nilai tukar Rupiah melemah terhadap USD. Dengan begitu, biaya produksi dan utang perusahaan batu bara akan semakin besar karena naiknya harga BBM dan impor suku cadang peralatan berat. 

Di Indonesia, inflasi masih terkendali sehingga Bank Indonesia (BI) belum perlu menaikkan BI Rate walaupun suku bunga The FED mengalami kenaikan.

Itulah beberapa sentimen yang dapat mempengaruhi prospek saham BUMI di tahun 2023. Selain hal-hal yang sudah dijabarkan di atas, investor juga tidak boleh mengesampingkan adanya konflik geopolitik yang dapat menjadi pemicu meroketnya harga batu bara seperti pada tahun 2022 lalu.

Prospek Saham BUMI 2023 Secara Analisa Fundamental

Secara fundamental, prospek saham BUMI di tahun 2023 bisa Anda analisa dari sejumlah indikator keuangan  seperti nilai kapitalisasi pasar, net profit, ROE, rasio utang, laba, dan EPS.

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memiliki nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp44,6 triliun dan punya rasio utang kurang dari 1 (0,59 kali modal). Dari analisa fundamental ini, kita bisa menyimpulkan bahwa saham BUMI termasuk saham blue chip karena memiliki nilai kapitalisasi pasar di atas Rp40 triliun dan punya jumlah aset lebih banyak dibanding utang.

Berdasarkan laporan keuangan, saham BUMI berhasil mencetak net profit dalam kurun waktu 2 tahun berturut-turut dari 2021 hingga 2022. Pada 2021, perusahaan BUMI berhasil membukukan net profit sebesar Rp2,4 triliun dan Rp7,9 triliun di tahun 2022. Pencapaian net profit perusahaan pada 2022 menjadi yang tertinggi selama berdirinya perusahaan BUMI.

Aset lancar perusahaan tambang batu bara ini lebih kecil dibanding liabilitas jangka panjang dan profitabilitas tergolong baik karena punya ROE lebih dari 15% (18,64%).

Harga saham BUMI saat ini berada di atas harga wajar sehingga overvalued untuk dibeli oleh investor. Perusahaan ini juga belum mencetak EPS positif selama 3 tahun berturut-turut.

Sejak resmi menjadi perusahaan publik pada 30 Juli 1990, Tercatat, perusahaan BUMI terakhir membagikan dividen bagi pemegang saham pada 2011 silam.

BACA JUGA: Cara Beli Saham GOTO dan Prospek Saham GOTO di 2023

Prospek Saham BUMI 2023 Secara Analisa Teknikal

Secara teknikal, saham BUMI saat ini sedang mengalami tren penurunan harga. Hal ini terjadi karena saat ini Tiongkok dan India sedang mengalami peningkatan produksi batu bara sehingga menekan arus ekspor batu bara BUMI ke negara-negara tersebut yang notabene adalah market yang besar bagi pemain batu bara di dunia.

Walaupun begitu, sepanjang tahun 2023 diprediksi permintaan batu bara tetap tinggi dan cenderung stabil baik dalam maupun luar negeri.

Investor yang ingin membeli saham BUMI sebaiknya menunda terlebih dahulu untuk melakukan pembelian. Hal ini dikarenakan harga saham BUMI saat ini masih tergolong overvalued untuk dibeli investor.

Berdasarkan analisa teknikal dengan menggunakan Moving Average (MA50), investor disarankan untuk membeli saham BUMI saat harganya berada di level Rp84/lembar saham.

Prospek Saham BUMI 2023 Secara Analisa Teknikal

Apakah Saham BUMI Layak Investasi di Tahun 2023?

Berdasarkan analisa fundamental dan teknikal yang sudah dijelaskan sebelumnya. Kita bisa menyimpulkan bahwa saat ini prospek saham BUMI 2023 sedang berada dalam tren penurunan.

Harga saham BUMI yang tergolong overvalued belum tentu tidak layak investasi. Lantaran, ketika memilih saham investor disarankan untuk tidak berfokus hanya kepada saham tersebut overvalued atau undervalued.

Ada banyak kasus bahwa saham overvalued bisa menunjukkan kinerja yang baik, bahkan harga saham tersebut bisa terus merangkak naik.

Daripada Anda hanya berfokus kepada saham tersebut overvalued atau undervalued. Alangkah baiknya, Anda menganalisa perusahaan secara menyeluruh mulai dari keuangan hingga potensi pertumbuhan di masa depan.

Dengan permintaan batu bara yang cenderung stabil baik dalam maupun luar negeri. Investor menjadi lebih optimis bahwa prospek saham BUMI 2023 tetap menjanjikan cuan, belum lagi batu bara adalah salah satu komoditas unggulan pada sektor pertambangan yang diprediksi tetap menjadi primadona di tahun 2023.

Di Mana Investor Bisa Membeli Saham BUMI?

Investor yang tertarik dengan prospek saham BUMI di  tahun 2023, Anda bisa membeli saham batu bara ini secara online di sejumlah aplikasi investasi saham terpercaya seperti StockBit dan Ajaib.

Namun sayangnya kedua aplikasi investasi tersebut belum melayani perdagangan saham-saham luar negeri yang terdaftar di sejumlah indeks global.

Mitrade adalah salah satu broker global yang melayani perdagangan mulai dari cryptocurrency, saham, forex, dan komoditas lain yang sudah mengantongi lisensi dari ASIC Australia dan CIMA Cayman Island. Melalui broker Mitrade, investor bisa melakukan perdagangan saham-saham luar negeri yang terdaftar di sejumlah indeks global seperti NASDAQ dan NYSE dengan biaya deposit yang murah.

Bermodalkan $50 Anda sudah bisa melakukan perdagangan di broker Mitrade dengan leverage hingga 1000x yang sangat cocok bagi Anda yang ingin melakukan perdagangan modal kecil. Selain itu, investor juga bisa menggunakan ratusan indikator dan 7 jenis chart yang dapat memudahkan Anda saat ingin menganalisa suatu aset.

Kesimpulan

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) adalah salah satu perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia yang punya pasar yang sangat besar baik dalam maupun luar negeri. Secara fundamental, saham BUMI punya keuangan yang sangat baik karena didukung oleh 2 perusahaan raksasa yakni Grup Salim dan Grup Bakrie.

Volume produksi yang sangat besar menjadi keuntungan bagi perusahaan tambang ini untuk memenuhi kebutuhan permintaan batu bara secara domestik maupun ekspor. 

Walaupun harga saham BUMI sedang turun, namun dengan didukung fundamental yang kuat dan permintaan batu bara di tahun 2023 yang cenderung stabil. Prospek saham BUMI 2023 berpotensi kembali naik seiring dengan mulai stabilnya penjualan batu bara di Indonesia maupun ekspor.

Disclaimer: Artikel mengenai prospek saham BUMI 2023 ini hanyalah untuk edukasi saja yang diambil dari berbagai sumber dan tidak bisa Anda jadikan sebagai panduan untuk investasi atau trading.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *